Rabu, 18 Mei 2016

ohhh mertuaku..




Masalahku & Ibu Mertua – Sinopsis : Hidup di Villa Mertua Indah dgn istri yg sedang mengandung & mertua yg menjanda memang lah kadang memunculkan masalah. Terlebih jika ibu mertua berani menggoda menantunya buat mengobati kesepiannya.

Saya tak tahan lagi mau menceritakan seluruh ini. Saya miliki masalah yg amat jarang berlangsung. Saya telah lama terjerat kasus ini & senantiasa berikhtiar lepas tapi senantiasa saya kembali terjerat dgn masalah ini seperti orang kecanduan.
Inti persoalannya ialah ibu mertuaku. Saya telah menikah tatkala nyaris 15 th & dikaruniai 4 anak yg lucu-lucu. Telah lama sebelum saya menikah dgn istriku ibu mertuaku telah berstatus seseorang janda yg relatif masihlah jelita & benar-benar kuakui tubuhnya menggairahkan.

Kepada awal pernikahanku dgn istriku Yanti, segalanya demikian baik. Ibu mertuaku memang lah senantiasa berpakaian sopan & tak sempat menunjukkan hal-hal yg jelek. Tingkah lakunya senantiasa santun penuh sabar & tidak sedikit memberikan pemikiran yg baik & memang lah ibu mertuaku tidak sedikit disukai ibu-ibu RT disekitar rumahnya.

Saya akui hingga kini memang lah saya belum sanggup memiliki hunian sendiri, maka sejak awal pernikahanku saya tinggal di hunian mertuaku. istriku ialah dua bersaudara, kakaknya pula wanita ikut suaminya di pulau lain, maka benar-benar ibu mertuaku kasihan apabila tinggal di hunian sendiri tidak dengan ada yg menemani.

Kepada kala itu memang lah saya senantiasa hormat kepada ibu mertuaku & saya serta langsung menyesuaikan diri bersama lingkungan hunian ibu mertuaku maka saya langsung di terima sbg masyarakat yg baik di situ.

Kepada dikala itu saya telah kerja di business garment. Letak kantor & rumahku yakni hunian ibu mertuaku amat sangat jauh, boleh dikatakan tidak sama kota, maka saya senantiasa mesti bertolak ke kantor pagi-pagi subuh. Aspek ini benar-benar telah jadi adat sehari-hari yg wajar.

Hri demi hri terjadi wajar & istriku mulai sejak mengandung anakku yg perdana. Tiap-tiap pagi bila saya bersiap-siap berangkat ke kantor senantiasa istriku belum bangun, bahkan hingga saya bertolak kebanyakan ia belum bangun. Namun ibu mertuaku senantiasa telah bangun & telah rapi, & membantuku dgn menyiapkan sarapan. Semuanya terjadi baik.
Hingga sebuah pagi waktu saya bangun tidur, ibuku umumnya baru selesai mandi & beres-beres hunian. Tapi tak seperti rata rata, sekali ini kulihat ibu mertuaku ke luar dari kamar mandi cuma menggunakan kimono yg ketat. Sejarah itu memang lah tak terlampaui jadi perhatianku sebab beliau merupakan ibu mertuaku.

Besoknya berlangsung perihal yg sama, ibuku ke luar dari kamar mandi terhadap waktu saya baru bangun & duduk di ruangan tengah, & sekali ini belahan tengah kimono di dada agak sembarangan di tutup maka agak terbuka sedikit. Yg mengkhawatirkan merupakan elemen ini mulai sejak mempengaruhi pikiranku, tapi saya senantiasa sukses mengusirnya. Anehnya histori seperti ini, saya baru bangun & ibu mertuaku yg ceroboh senantiasa terulang.

& yg lebih lagi sekian banyak pekan selanjutnya kepada kala saya baru bangun ibuku seperti biasa ke luar dari kamar mandi & seolah jadi rutinitas saya senantiasa mencuri-curi tonton ke badan ibu mertuaku. Tetapi sekali ini ibuku cuma menggunakan handuk yg dilingkarkan ke tubuhnya. & terang handuk tersebut terlampaui pendek utk menutupi seluruhnya kulit putih mulus milik ibu mertuaku. Saya akui benar-benar ibu mertuaku tetap terbilang bujang atau orang mengatakannya awet belia.
Ibu mertuaku cuma senyum-senyum tidak dengan bersalah melalui di depanku & masuk ke kamarnya. Adegan handuk ini kembali jadi teratur yg seakan-akan berbalas-balasan antara ibu metuaku yg sedikit-sedikit seolah mengusahakan “menunjukkan” & saya yg sedikit-sedikit berikhtiar melakukan pencurian saksikan.

Hingga sebuah hri seperti biasa ibuku melalui di depanku & masuk ke kamarnya & benar-benar pintu kamarnya tak sempat di tutup rapat, senantiasa dibiarkannya agak rengga sedikit, seakan-akan lupa. & di dalam kamar diwaktu ibu mertuaku mengganti pakaian di balik pintu sekali-sekali ibuku terjadi di kamarnya dari satu ujung ke ujung yg lain buat membawa sesuatu yg ketingalan di lemari, dgn cuma memanfaatkan celana dalam & BH. Seakan-akan tiada yg menonton, tapi kadang-kadang saya menangkap segi matanya yg sekejap menyaksikan seperti mau tahu apakah saya memperhatikannya atau tak.

Kadang-kadang di dalam kamarnya itu ibuku memijit-mijit kakinya yg memang lah mulus, seperti pegal atau apa saya tak tahu. Sambil duduk dipinggir ruangan tidur & masihlah menggunakan handuk di tubuhnya ibuku memijit-mijit kakinya & kadang-kadang mengangkatnya sedikit, & kadang-kadang seperti tak sengaja agak merenggangkan pahanya maka saya sanggup menonton celah-celah di antara pahanya dalam kegelapan tertutup handuk. Kadang saya seperti menyaksikan lirikan mata ibu mertuaku sekejap & seolah merasa puas apabila mengetahui bahwa saya berikhtiar melihatnya di celah pintu yg agak renggang. Kejadian ini berulang. & kondisi sehari-hari memang lah tak ada perubahan maka istriku pun tak mengetahui apa-apa, terutama serta ibu mertuaku bertingkah laku biasa & memang lah tak ada apa-apa. Tapi pikiranku melekat padanya & tak sanggup melupakan kejadian-kejadian tiap pagi.

Kadang-kadang sambil memijit kakinya tiba-tiba ibu mertuaku mengangkat kakinya sebelah ke atas ruangan tidur dalam posisi tetap duduk dipinggir ruang tidur, maka terlihatlah segalanya meskipun cuma sebentar selanjutnya kakinya diturunkan lagi. & benar-benar jikalau ke luar dari kamar mandi ibu mertuaku tak sempat memanfaatkan pakaian dalam dikarenakan seluruhnya pakaiannya ada di kamar tidurnya. & sesudah selesai berpakaian, ibu mertuaku senantiasa senyum dikulum, seolah suka melihatku setengah mati berlangsung membungkuk-bungkuk & saya melepaskan segalanya di kamar mandi.

Kejadian bermacam-macam tidak jarang berjalan & segalanya menjadi tak wajar lagi. Seandainya saya bersenggolan dgn ibu mertuaku senantiasa ada perasaan berdesir & berdebar, tetapi ibu mertuaku cuek-cuek saja. Begitu berjalan konsisten saya tidak jarang “tidak sengaja” menyenggol ibu mertuaku & ibu nertuaku kadang-kadang “tidak sengaja” menyenggolku, begitu tetap hingga anakku lahir & hingga diwaktu anakku berusia 4 bln.

Terhadap satu buah hri saya pulang kantor pagi-pagi sebab saya dapat mendapat shift tengah malam dikarenakan ada order mendesak. Di hunian cuma ada ibu mertuaku sebab istriku sedang bertolak ke hunian uwaknya dgn anakku. & rata-rata bila istriku ke hunian uwaknya sehingga sanggup hingga sore baru pulang. Saya benar-benar berencana buat membetulkan kabel listrik di rumahku yg masihlah kurang buat lampu depan. Disaat saya mengusahakan memasang kabel yg ditembok di kamar kulihat ibu mertuaku sedang memasukkan baju-baju yg baru diseterika ke dalam lemari siteriku. Dengan Cara insting saja saya membawa kabel di tembok di belakang lemari yg bergelantungan yg telah kulepas dari atas & dengan cara tak sengaja lenganku menyentuh sektor depan atas dada ibu mertuaku. Saya agak terperanjat & berupaya menarik tanganku tapi batal lantaran anehnya ibu mertuaku tak mengupayakan menggeser badannya biar saya tak terhalang, & kembali sibuk dgn pakaian yg telah diseterika.

Saya serta seperti pura-pura tak tahu & menarik-narik kabel itu sedemikian rupa maka lenganku bergesekan bersama dada ibu mertuaku. Jantungku berdebar-debar kencang, & ibu mertuaku pun kulihat cuma membolak-balik pakaian yg telah di lemari tidak dengan maksud. Tiba-tiba ibu mertuaku memandangku tajam, cuma sebentar setelah itu kembali sibuk bersama baju-baju di lemari.

Perlahan-lahan kutarik tanganku & kupindahkan ke pundaknya buat merangkulnya. Saya percaya ibu mertuaku dapat mendengar betapa jantungku berdegup-degup keras & saya agak gemetaran. Waktu perlahan kurangkul, ibu mertuaku tak bergeser atau berpaling, dirinya terus saja sibuk bersama baju-baju di lemari.

Posisi berdiriku waktu ini sedemikian rupa menjadi berada agak di belakang ibu mertuaku dgn satu tangan merangkul pundaknya. Saya memandangi leher putih ibu mertuaku dari belakang, & saya tak tahan tiba-tiba kupeluk ibu mertuaku & kuciumi tengkuknya bertubi-tubi. Saya tak perduli ibu mertuaku merasakan tonjolan keras yg merapat di belakangnya dikarenakan saya memang lah telah tinggi. Ibu mertuaku tiba-tiba bergerak menghindar & berangkat pula menyampaikan, “Jangan Dang..,” sedikit ketus, tidak dengan memandangku. Ibu mertuaku kembali ke lokasi tengah lokasi beliau sedang menyeterika bajunya.

Kondisi dalam hunian memang lah sepi & seluruhnya pintu tertutup sedangkan jendela depan dgn gorden tipisnya tak sanggup diliat orang dari luar. Saya telah begitu tinggi & seperti kerasukan setan telah tak perduli bersama kaidah apapun. saya pura-pura ke dapur seakan-akan membawa sesuatu di dapur & kembali ke ruangan tengah dari arah belakang dari ibu mertuaku. Saya pandangi badan ibu mertuaku dari belakang, & memang lah tubuhnya sangat indah di balik pakaian & rok yg ketat yg dikenakannya.

Saya pegang pundaknya dari belakang & pelan-pelan kuusap-usap pundaknya, & ibu mertuaku diam saja, setelah itu tanganku pelan-pelan kulingkarkan di perutnya, ibu mertuaku kupeluk dari belakang. Saya ciumi kembali tengkuknya bersama lembut, & sekali ini saya akan merasakan bahwa ibu mertuaku pun berdebar-debar sebagaimana keadaanku. Ibu mertuaku bicara berkali-kali “Jangan Dang..,” namum sekali ini tak ketus namun seperti berbisik & suaranya agak gemetar.

Tanganku saya naikkan ke dada ibu mertuaku sambil tidak henti-hentinya saya menciumi leher ibu mertuaku yg putih mulus. Saya remas-remas dadanya & ibu mertuaku tak melawan malahan badannya agak menggeliat-geliat & berkali-kali berbisik “Dadaanng..” Dari situ tanganku tetap berpindah ke bawah & tetap dalam posisi memeluk dari belakang. Kondisi itu konsisten memanas & hasilnya terjadilah semuanya di situ di sofa dekat meja seterikaan, saya menyetubuhi ibu mertuaku & ibu mertuaku membalasnya dgn lebih panas.

Demikianlah awal kejadiannya. Kepada mulanya saya senantiasa menyesal atas tindakan yg baru saja kami melakukan namun seperti daya pesona yg kuat, kejadian itu senantiasa berulang kembali.

Kami berkali-kali lakukan diam-diam & senantiasa istriku atau tetangga-tetangga kami tak ada yg mengetahuinya, & ibu mertuaku demikian pandai menutupi segalanya seolah tiada kejadian apa-apa. Saya tidak sedikit menuntut ilmu dari ibu mertuaku gimana menutupi & berlatih “bersabar” utk tak melaksanakan kesalahan apapun di depan orang lain. Bagi orang luar yg melihatnya interaksi kami kelihatan wajar, keluarga mungil yg hidup tepat dengan ibu mertuanya.

Kepada tiap-tiap peluang saya cuma berdua bersama ibu mertuaku senantiasa saja seakan-akan kami tak ingin menyia-nyiakan diwaktu & melakukannya bersama keras & teramat segera biar serentak selesai. Kondisi sembunyi-sembunyi ini seolah merasuki kami & menciptakan ketagihan. Bahkan dikala kami seluruhnya di hunian & istriku bertolak sebentar buat berbelanja di ujung gang hunian kami atau berangkat sebentar ke hunian sahabat, kami cepat melakukannya bersama posisi berdiri atau di lokasi cuci piring ibu mertuaku membungkuk & posisiku dari belakang, kadang tidak dengan mengakses pakaian kami & cuma di buka di daerah tertentu secukupnya. Bahkan kadang ibu mertuaku tak melepas pakaian atau apapun & cuma saya singkapkan celana dalamnya ke samping sedikit tidak dengan dilepas. Apabila saya bandingkan yg saya jalankan dengan ibu mertuaku bahkan lebih gila dari terhadap melakukannya bersama istriku. istriku tak sempat ingin jalankan posisi 69, tapi ibu mertuaku paling gemar bila permainan pembukaanya dgn 69. Nyaris segala macam posisi telah saya laksanakan dengan ibu mertuaku, yg tak sempat kulakukan dengan istriku. Namun benar-benar saya tak sempat menuntut apapun dari istriku.

Lalu kadang-kadang saya & ibu mertuaku senyum-senyum berdua dalam aktivitas sehari-hari atau kadang saya berbisik yg agak porno & ibu mertuaku mencubitku dgn keras. Kadang-kadang dalam peluang duduk dengan di meja makan, tanganku bergerilya di bawah meja tidak dengan setahu istriku & anak-anak, tapi factor seperti ini amat jarang saya laksanakan lantaran saya dilatih utk bersabar & tak melaksanakan hal-hal yg tak butuh.

Jikalau dipikir-pikir saya lakukan hal tersebut bersama ibu mertuaku nyaris di seluruhnya pelosok hunian sempat kami jalankan, barangkali ini dikarenakan senantiasa keadaanya darurat maka kami tak memilih-milih ruang. Kayaknya saya menikmati itu seluruh, namun serta saya mau lepas dari itu seluruh. Tetapi anehnya hubunganku bersama ibu mertuaku & istriku sehari-hari seperti tak ada perubahan sedikitpun.

Kepada awalnya nyaris tiap-tiap pekan saya & ibu mertuaku melakukannya minimum satu kali, & yg paling nekad ialah dikala tengah malam hri saya terbangun & diam-diam pindah ke kamar ibu mertuaku & melaksanakan segalanya, seakan-akan saya percaya istriku tak dapat terbangun, & anehnya benar-benar istriku tak terbangun.

Kadang-kadang benar-benar nyaris diketahui oleh istriku tapi senantiasa saya atau ibu mertuaku menemukan kata-kata yg sesuai utk argumen atau membelokkan perhatian & menutupi kejadian sesungguhnya. Kami seperti orang yg kerasukan, bahkan dalam perjalanan keluar kota atau di hunian saudara kami pernah melakukannya di kamar mandi atau di manapun ada peluang cuma berdua & tak mencurigakan.

hingga kini anakku telah empat tapi sekali-sekali bila ada peluang saya & ibu mertuaku melakukannya kembali. Ibu mertuaku senantiasa memuji-muji saya & menyampaikan saya hebat & ia senantiasa terpuaskan & klimaks. Saya tak tahu apakah rasa puas ibu mertuaku merupakan sebab punyaku yg benar-benar agak gede atau lantaran keadaan pesikologis kami yg melakukannya diam-diam sambil agak takut-takut yg menciptakan kami memang lah mau cepat-cepat selesai tiap-tiap kali melakukannya. & kami seperti keranjingan atau ketagihan dapat perihal ini.

Namun disamping itu seluruh saya konsisten tak dapat lepas dari rasa bersalah & rasa berdosa yg senantiasa pun menghantuiku. Berkali-kali saya mau lepas dari etika seluruhnya ini. Bahkan saya sempat ketus & tegas menolak ibu mertuaku. Tapi senantiasa ia dgn lemah lembut membujukku & menyampaikan apakah saya tak kasihan kepadanya yg senantiasa membutuhkan itu. & saya begitu lemahnya maka senantiasa kembali terjebak dgn jalankan itu lagi.
Kadang saya beram terhadap diri sendiri, tapi kepada dikala saya mau melakukannya senantiasa lupa terhadap segala pemikiran ini & senantiasa kembali melakukannya lagi.

Maafkan saya jikalau saya narasi terlampaui rincian, sebab saya tetap dalam kondisi seperti keranjingan atau ketagihan & seperti kerasukkan apabila mengenang segala rincian itu. Kadang ini pula mengganggu kerjaku tapi untunglah tak ada halangan apapun.

Gimana caranya lepas dari seluruhnya ini. Saya sadar bahwa kami tak mampu meninggalkan ibu mertuaku sendiri di rumahnya tapi saya pula sadar & berpikir menyangkut hari esok keluargaku & anak-anakku. Apa yg sebaiknya saya laksanakan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar